Jumat, 17 Februari 2023

Supervisi Terpadu

Tim Supervisi Terpadu kec. Tinggimoncong
Tim supervisi terpadu kec. Tinggimoncong


Aktivitas apapun yang kita kerjakan akan terasa enjoy, enak, dan akan muncul perasaan senang apabila dikerjakan tanpa tekanan. Namun pekerjaan akan terasa berat, akan membebani pikiran dan mungkin sangat tidak maksimal apabila pekerjaan itu dibawah perintah atau dalam proses penilaian. Kita ambil sebuah contoh, berjalan, siapa saja tidak akan pernah kaku dalam berjalan, namun disaat seseorang disuruh berjalan dan akan dinilai maka mungkin muncul perasaan kaku dan boleh jadi dia berjalan tidak seperti biasanya dan boleh jadi juga dia akan menampilkan cara berjalan yang selama ini tidak pernah dia lakukan, dan celakanya lagi sang penilai akan memberikan cap, vonis bahwa orang tersebut tidak bisa berjalan dengan baik berdasarkan hasil penilaiannya. Dan inilah yang akan menjadi predikat yang akan disandang selamanya. Akhhh jadi lucu. Kok ngomongin jalan sih bang, kan judulnya supervisi terpadu, kok ngomongin cara jalan.

Akar masalahnya begini, beberapa waktu yang lalu saya di supervisi dan hasilnya sangat buruk menurut versi saya sendiri, soalnya saya tidak bisa menunjukkan yang terbaik, bahkan sama sekali tampak seperti orang yang baru mengajar, tidak terarah dan tidak jelas. "Memangnya gak ada persiapan yang bang". Ooo jangan salah satu bulan sebelum supervisi sudah disampaikan memang sama Bapak Kepala Sekolah bahwa akan diadakan pada tanggal sekian, dan mulai pada saat itu sudah dibuat persiapannya, mulai download semua perangkat ADM yang akan dinilai, dan bukan cuma kelas yang diampuh, 1 sekolah dari kelas 1 sampai kelas 6, di download semua, rampung, lengkap, terstruktur, rapi. "Trus masalahnya apa nih" gini semua adm yang terdownlod tidak ada yang dicetak, kita kan sudah mengarah kepada digital, dimana adm, media, dll sebagainya semuanya disimpan secara online, google drive umpamanya atau dalam bentuk web dll, menuju era tinggal landas kata Pak Harto dulu, tea maki cetaki, perlihatkan mami apa yang kita punya secara online, nanti saya yang bertanggung jawab, nanti saya yang perlihatkan semua yang kita punya. gitu kata saya. 

Sial....

Keesokan harinya pas hari dimana tim datang, semua teman sudah cetak admnya yang akan diperiksa, kecuali saya, 

Dan lebih celakanya lagi pemeriksa tidak mau terima jika tidak tidak dalam bentuk print out, dalam keadaan bersih tegang karena tidak ada kesepakatan langsung lagi disuruh ngajar, simulasi, memperlihatkan bagaimana cara mengajar yang sebenarnya, busett....

Mengajar itu adalah suatu proses memanusiakan manusia, bukan cuma sekedar proses mentransfer ilmu tetapi lebih utama adalah mendidik, membentuk karakter anak, dan mempersiapkan diri anak untuk mampu lanjut ke jenjang berikutnya. Dalam mengajar butuh ketenangan, kontrol emosi, suasana menyenangkan, memiliki komunikasi yang terarah dan lebih khusus adalah suasana hati sang guru. Bagaimana mungkin kita bisa menunjukkan cara mengajar yang baik jika barusan terjadi insiden di dalam kelas, hehehehe

Terus terang ini cuma persoalan sudut pandang, bagaikan dua sisi pada sebuah koin, saya menganggap bahwa sudah saatnya kita mengarah pada modernisasi, digitalisasi, mengikuti zaman, sementara sang supervisor masih menerapkan pola lama, print out, adm dengan tulis tangan, tidak terima bila masih di dalam hardisk. 

Aduuhhhh kecewa.....

Sementara mengajar sang supervisor sudah mulai berbisik sambil melirik ke arah saya, entah apa yang mereka bisikkan namun saya mulai tidak enak, nervous, sekaligus mulai marah, mungkin karena cara saya mengajar yang buruk dan tidak terarah, atau mungkin juga mereka sedang membicarakan perihal lain dan tidak ada hubungannya dengan saya, namun pada hari itu saya sudah tidak enak, tidak mut.

Sementara saya menjelaskan di depan siswa saya tiba-tiba dia menyela "akhiri saja" yaaa ampun.... Mimpi apa aku semalam... Kok apes banget hari ini...., Bukankah selama ini saya dikenal sebagai guru yang terampil???, Bukankah saya mendapat pengakuan dan penilaian positif dari kepala sekolah dan teman sejawat dalam hal mengajar???, bukan saya selama ini diakui, disegani, dikagumi dalam hal mendidik anak-anak??? "skali-skali memuji diri sendirilah hehehehe".

Yang jelasnya saya sangat kecewa dengan diri saya sendiri, ingin rasanya menghindar dari yang namanya supervisi selamanya, kalau perlu sampai pensiun, dalam pikiran saya jika ingin mendapat nilai baik dari sang supervisor maka berbuatlah sesuai keinginannya, meskipun apa yang kita lakukan adalah hal yang istimewa menurut pribadi kita toh belum tentu baik dimata supervisor, apalagi jika supervisornya gatek, 

Singkat cerita setelah saya menutup pelajaran, sang supervisor langsung meninggalkan kelas saya, padahal setahu saya yang namanya supervisi adalah pembinaan, bukan mencari celah, mencari kekurangan, tetapi memberikan pembinaan agar proses pembelajaran dan kualitas pendidikan meningkat, setelah melakukan penilaian maka selanjutnya adalah tindak lanjut, memberikan masukan, saran, arahan kepada klien atau guru, namun kali ini tidak, sang supervisor masuk ke kelas saya, memeriksa dan keluar begitu saja.

Ampuuuun,

Yaaa Rabb ku, ampunilah kesalahanku dan anugerahilah kepadaku ketenangan, karena jujur saya sedang galau.










Kamis, 26 November 2015

Abbulo Sibatang



"Abbulo sibatang, accera' sitongka-tongka, siri na pacce, toddopuli" hanyalah sebuah celote belaka, sekedar dongeng pengantar tidur buat sikecil,  di jaman perjuangan merebut kemerdekaan pun toh masih ada kalangan keluarga dan tokoh kita yang berpihak kepada kolonialisme, sejarah Tinggimoncong mencatat bahwa disaat Sulaeman Dg Jarung, Bung Endang, Mappatangka Krg Rani, Mappa Krg Tawang, Basnang Dg Talle dan sejumlah tokoh-tokoh daerah bangkit untuk melawan Pemerintahan Belanda pada saat itu, toh masih ada yang setia dan berpihak kepada Belanda, yang menyebabkan gagalnya penyerangan di Malino. Jembatan Lebong di Parangloe yang rencananya diruntuhkan untuk memutus bala bantuan dari Pusat Ibu Kota (Somba Opu) gagal karena dihalangi oleh seseorang yang setia kepada belanda yang nota bene adalah masih kalangan keluarga sendiri dan masih tokoh panutan masyarakat kecil pada waktu itu.
Penyerangan ke Markas Belanda di Malino pada waktu itu sebenarnya kemenangan sudah di depan mata, masyarakat Tinggimoncong, pejuang kita, pahlawan kita, rela menukar nyawa mereka dengan amunisi, perhitungan mereka jumlah pejuang masih lebih banyak ketimbang amunisi yang dimiliki belanda, mereka rela guguru, mereka merelakan menukar nyawa dengan amunisi, demi sebuah kebebasan, demi kemerdekaan, demi kedamaian. namun semua itu sia-sia karena datangnya bala bantuan dari pusat pemerintahan.
Keberpihakan Keluarga kita pada Pemerintah Belanda apakah dianggap suatu penghianatan? Bukan. sama sekali bukan penghianat, ini persoalan pilihan, ini persoalan prinsip. mungkin bagi pejuang-pejuang kita ini adalah suatu penghianatan, tapi bagi mereka-mereka dan Pemerintah Belanda justru sikap yang diambil oleh Krg Jarung, Bung Endang  dan Rekan-rekannya adalah tindakan Makar/Pemberontakan yang wajib ditumpas. Krg Jarung dan rekan-rekannya semata-mata berjuang dengan niat yang tulus mengimpikan suatu negara yang damai, aman, yang merdeka, dan bebas menentukan nasib sendiri tanpa tekanan, tanpa penindasan, namun disisi lain yang berpihak kepada Pemerintah Belanda menganggap bahwa sikap mereka adalah sikap yang bodoh, bukankah pemerintah kita sudah memberikan yang terbaik? membangun malino? pembangunan infra struktur ?. pendidikan yang maju?. sekali lagi ini persoalan prinsip.
Sepertinya peristiwa sejarah akan terulang kembali. disaat tokoh-tokoh kita bangkit untuk memperjuangkan sebuah perubahan, memperjuangkan sebuah cita-cita mulia toh masih ada keluarga yang enggan untuk bersama menyatukan persepsi untuk menatap Tinggimoncong yang lebih cerah kedepan, mereka menganggap bahwa apa yang kita rasakan saat ini sudah lebih dari cukup, mereka lebih memilih setia. Pada saat pemerintahan Belanda, mereka berpihak kepada Belanda mungkin karena mereka dijanjikan suatu kedudukan, jabatan, posisi yang strategis, kekuasaan, atau mungkin karena motif finansial. masyarakat kita pun pada saat itu memiliki tipe yang berbeda-beda, ada yang melawan belanda dengan sembunyi-sembunyi/ takut ketahuan, ada yang berjuang karena motif ekonomi (harta rampasan perang), namun sebagian besar karena menginginkan sebuah perubahan, sebuah kemerdekaan, sebuah kebebasan.
Konsekuensi dari sebuah perjuangan adalah resiko, pasca penyerangan markas tentara Belanda di Malino, hampir semua pejuang kita dihukum mati, Mappatangka Krg Rani ditembak Mati, S Dg Jarung sampai sekarang belum diketahui dimana Kuburannya, Saleh Dg Se're harus beganti nama menjadi Sare Dg Sele' karena menjadi buronan pemerintah, Labbiri Dg Lurang didudukkan diatas mesin mobil dan di arak keliling Malino, Mappa Krg Tawang di buang ke Nusa Kambangan. inilah resiko dari sebuah perjuangan dalam meraih sebuah kemerdekaan.
Kini S. DG Jarung, Bung Endang, Krg. Tawang, Mappatangka Krg Rani, kembali bangkit menyatukan tekad untuk kemajuan Tinggimoncong, meskipun kita sadari bahwa mereka tidak didukung sepenuhnya oleh kalangan keluarga, namun tidak menyurutkan tekad mereka untuk meraih cita-cita Tinggimoncong yang lebih cerah. Masih ada keluarga kita yang lebih memilih orang lain ketimbang "Abbulo Sibatang, Siri na Pacce dalam Kekeluargaan". genderang perang yang ditabuh Krg Tawang saat ini untuk menyuarakan Tinggimoncong Cerah dimasa yang akan datang tidak sepenuhnya didukung oleh rekan-rekannya, sebagian diatara mereka ingin meraih kemenangan dikedua sisi, mereka ragu dengan sebuah resiko,  
Akankah S. Dg Jarung, Krg. Tawang, Mappatangka Krg Rani, Basnang Dg Talle akan kembali menuai kekalahan dalam memperjuangkan Tinggimoncong? atau sebaliknya mereka terlahir kembali untuk memetik kemenangan mereka yang tertunda saat itu? 
Saat ini darah pejuang kita kembali yang mengalir dalam diri mereka  dalam meperjuangkan Tinggimocong lebih baik, saat ini tokoh kita "Hairil Mu'in" sedang berperjuang untuk meraih cita-cita membawa Tinggimoncong lebih cerah. namun kita sadari bahwa perjuangan mereka tidak sepenuhnya didukung oleh pihak keluarga, masih ada yang lebih mementingkan keuntungan dan keselamatan diri pribadi dibandingkan Siri dan Pacce dalam kekeluargaan. masih banyak diantara keluarga kita yang lebih memilih keuntungan pribadi dibandingkan kekeluargaan.  Zainuddin Dg Late sempat berucap "Parangku Lagi Tu Tinggimoncong na Parallu ku Passiriki apalagi ka Bijangku" inai paeng la perjuangkangi punna teai katte, manna na ni betaja assa teai nakke pappibetangi . tena saasallianna kalengku punna bijangku tonja ku perjuangkan.
Abbulo Sibatang adalah kata-kata yang begitu mudah keluar dari mulut kita, namun hanyalah sebuah slogan belaka tanpa pemaknaan, napileangangi tau maraenga na bijanna, nalabbirangangi jabatanna na passibijaanna. jujur saya sebagai penulis menganggap bahwa mereka tidak memiliki jiwa kesatria, sekali lagi perjuangan Hairil Mu'in, Karaeng Tawang, dan sejumlah Tokoh Kita di Tinggimoncong bukan atas motif keuntungan pribadi, akan tetapi demi Negeri yang mereka cintai, Kapan lagi ada Tokoh kita di Tinggimoncong yang berani bertarung di kancah politik, inilah saatnya untuk "abbulo sibatang na ni si kapaccei si passiriki" mungkin kita mesti menunggu  100 tahun lagi baru ada tokoh kita dari Tinggimoncong itupun kalau ada, inilah saatnya.
Hal yang paling tidak benar adalah apabila kita memaksakan sesuatu yang bukan pada keahliannya, namun tohoh kita saat ini adalah seorang tokoh yang ahli pada bidangnya, bukankah Allah SWT telah memperingatkan kepada  segenap manusia, bahwa apabila suatu urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya? sekedar dijadikan sebagai bahan renungan dan landasan berpijak dalam mengambil keputusan.  
Suatu saat nanti akan banyak orang yang mengaku pejuang, disaat kemenangan sudah diraih, namun pejuang yang sebenarnya adalah orang-orang yang berani bersuara lantang di saat masa perjuangan, tanpa mempedulikan resiko jika perjuangan mereka gagal. 
Sifat Paja Paniku dalam konteks Bahasa Makassar memang dari dulu hingga saat ini selalu ada di hati sebagian orang, ingin menang  pada kedua sisi. namun tidak punya keberanian disaat masa pertempuran. sadar atau tidak masih banyak Pemimpin kita yang lebih berpihak pada orang lain saat ini dibandingkan keluarganya, atau mendukung keluarganya dengan sembunyi-sembunyi, ingin baik sama orang lain dan ingin benar di keluarganya. mana jiwa patriotismemu wahai para pemimpinku di Tinggimoncong, bagaimana mungkin rakyat bisa bersatu jika kalian para tokoh sulit untuk bersatu? atas dasar apa kalian para tokoh yang terhormat lebih memilih orang lain dibandingkan keluargamu? janji sebuah jabatankah, kedudukankah, popularitaskah, ekonomikah, atau apakah anda seorang penakut untuk bersuara lantang mendukung jagoanmu dari Tinggimoncong?
"HAIRIL MUIN" doaku menyertai perjuanganmu.
Terima Kasih Buat
"Hasbullah Krg. Tawang, Abd. Gani Puang Bani" jiwa Patriotismemu dalam memperjuangkan Tokoh Kita akan kami kenang sepanjang masa" demi sebuah niat tulus Tinggimoncong lebih baik ke depan.
Wassalam.







Rabu, 01 Oktober 2014

BACAAN SEKOLOM SAMBIL MINUM KOPI
Ungkapan Hati Seorang Sahabat

Sumber Google Gambar
Ada banyak hal mesti kita pelajari dalam hidup dan kehidupan ini, baik dalam bertindak maupun dalam bertutur kata, butuh waktu yang panjang untuk bisa mencapai tingkat bijaksana itupun kalau bisa kita raih. bijaksana dalam betindak dan bertutur kata memang suatu hal yang sebenarnya sangat sulit bagi sebagian orang, terkadang seseorang sudah mencapai tingkatan sarjana dalam dunia pendidikan, terkadang juga seseorang sudah cukup dari segi usia dalam artian dewasa namun bukan suatu jaminan untuk bisa bersikap bijak. Sebenarnya menurut saya pribadi bijak itu adalah memaafkan segala-galanya, bersikap rendah hati, menjauhkan diri dari sifat sombong dan beberapa penyakit-penyakit hati lainnya, entahlah tapi itu defenisi menurut saya pribadi.
Saya sebenarnya salut dengan kata-kata seorang teman saya beberapa waktu yang lalu ia mengatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin baguslah tutur katanya, semakin baiklah perilakunya dan semakin bijak dalam berfikir dan bertindak. Namun kenyataan saat ini terkadang orang lupa bahwa saya ini adalah seorang sarjana sehingga dalam hal bertutur kata terkadang kita tidak bisa membedakan antara yang memiliki pendidikan tinggi dengan yang tidak berpendidikan. wallahu a'lam.
Sebenarnya dasar utama dalam hal sikap dan perilaku kita yang baik cukuplah sederhana, cukup kita bisa membedakan antara yang mana baik dan yang mana tidak baik, setelah dasar utama ini sudah tertanam dalam diri kita selanjutnya adalah mampu membedakan antara yang mana benar dan yang mana salah. apabila kedua dasar ini sudah tertanam dalam diri kita maka yakinlah bahwa segala tindakan kita sudah baik dimata orang apalagi hadapan Allah SWT, namun ada kalanya seseorang bertindak dan bertutur kata sangat jauh dari sifat bijak, mereka bertindak atas dasar hawa nafsu, sifat sombong, takabbur, merasa bahwa hanya dia, sikap dan kata-katanya yang benar, memunculkan perselisihan, merasa curiga sama seseorang dan selalu berpikiran negatif. kenapa kita tidak berusaha mencoba untuk selalu berpikiran positif kepada siapa saja? kenapa kita tidak berusaha belajar untuk rendah hati, kenapa kita tidak berusaha untuk tidak terpedaya dengan hawa nafsu?
saya sebenarnya sudah berusaha memperingatinya bahwa berpikirlah baik-baik sebelum bertindak, banyak-banyaklah istigfar setiap ada persoalan dalam hati, jangan terbawa emosi, jadikan kritikan adalah suatu berkah untuk bisa lebih baik, saya juga sudah peringatkan bahwa apabila ada dua kaum yang berselisih maka salah satu diantaranya adalah keliru, bagaimana jika senadainya kritikan itu adalah petunjuk dari Allah melalui seseorang, namun tidak ada satupun nasihat yang bisa diterima, saya bisa maklumi bahwa memang sulit untuk menasihati sesorang yang lagi hatinya galau kata anak muda sekarang.
Yaaaahhh,,,, apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur, pesan orang tua saya tidak ada kata-kata yang tidak  ada balasannya, bagai membangunkan singa lapar yang sedang tidur, SMS kasar dibalas dengan yang lebih kasar, SMS itu adalah pesan yang sangat mudah dihapus dari HP namun kata-kata yang tertuang di dalamnya sangat sulit dihapus dari dalam hati, saya saja yang mendengar ungkapan yang tertera dalam SMS itu merasa sakit apalagi yang membacanya langsung!
mungkin seseorang merasa enjoi saja mengirim SMS "apa kamu, anak ingusan, anak kampungan, keluarga melarat, keluarga ATA (budak). memang sakit sih, tapi saya berusaha untuk tetap tenang dan seolah-olah cuek dengan semuanya, namun hati ini sangat perih rasanya. saya cuma bisa mengatakan saya kan sudah peringatkan tidak usah SMSan, kritikan yang mereka lontarkan kemarin itu anggap suatu masukan yang bersifat membangun untuk keluarga kita tapi kamu kan tidak mau mendengar.
Sebenarnya kalau kita mau maknai SMS itu sangat bertolak belakang dengan predikat yang dia sandang selama ini yaitu seorang Ustads yang menghabiskan waktu dan hartanya untuk akhirat. Kenapa saya berkata demikian merendahkan seseorang sebenarnya adalah suatu kesombongan (takabbur) bukankah Iblis yang ahli Ibadah itu diusir dari surga lantara dia hanya mengatakan saya masih lebih baik dari pada adam? sekiranya seseorang mengatakan dalam hatinya saya masih lebih baik dari dia maka sesungguhnya dia telah terjatuh kedalam dasar Neraka Jahannam. Nausubillah.
Sejak awal pertemuan saya dengan pak Ustads, saya begitu simpati dengan usaha yang dia lakukan dalam hal agama, saya begitu salut dengan ibadahnya dan saya begitu kagum dengan pengorbanan waktu dan harta benda dijalan Allah, namun semua itu kini sirna sudah lantaran SMS ustads yang saya dengar sendiri, Ustads didepan nama bapak dan SH, MH dibelakang nama bapak kini tidak berarti lagi dimata saya. saya dari awal tidak mau ikut campur dengan semua ini karena saya pikir ini urusan perempuan tapi saya tidak menyangka bapak mencampuri urusan perempuan. Bapak mengatakan saya keluarga melarat, itu memang benar dimata bapak tapi sekiranya saya menjual semua aset yang saya miliki maka mungkin saya masih lebih kaya dari pada ustads tapi bukankah harta hanya titipan Allah yang sangat tidak pantas untuk dibangga-banggakan? ustads mengatakan saya keluarga ATA, itu karena anda kebetulan keturunan PUANG dari Bugis tapi anda tidak sadar bahwa yang anda hadapi adalah seorang KARAENG dari Makassar, namun semua itu saya sembunyikan karena pesan leluhur saya bahwa bangsawan itu bukan untuk dibangga-banggakan tetapi sebagai panutan ditengah-tengah masyarakat. Karaeng itu adalah Akhlakul Karima, tutur kata yang halus, sikap yang bijaksana, dan jauh dari sifat sombong, saya rela membersihkan WC umum, saya rela memungut sampah dijalanan hanya semata-mata karena berusaha melawan rasa kesombongan di dalam hati, tapi sekalipun seperti itu semua masyarakat masih menghormatiku sebagai seorang bangsawan. Belajarlah lebih banyak pak ustads untuk bisa menyandang predikat ustads di tengah-tengah masyarakat, jangan sampai apa yang selama ini anda usahakan sudah terkontaminasi dengan sifat UJUB, RIYA dan TAKABBUR. Ketiga penyakit ini dapat menghapus semua amal ibadah ustads selama ini, ingat Ujub adalah merasa bangga dengan amal ibadah yang sudah dilakukan, Riya yaitu sudah membicarakan semua pengorbanan yang dilakukan kepada orang-orang, "saya sudah melanglang buana kesana-kemari membantu orang-orang dalam hal pembangunan masjid" ini sudah bisa dikategorikan Riya dan Takabbur "saya ini keturunan bangsawan dari BUGIS. wadduh bangsawan dibangga-banggakan. terlepas dari semua itu hanya Allah yang maha pemilik kesempurnaan, hanya Allah yang maha Perkasa, hanya Allah yang maha Benar.

Inilah sepenggal cerita dari teman saya, yang menurut saya pribadi sebagai seorang penulis  sarat dengan hikmah, sehingga saya berusaha menulis  cerita ke dalam blog ini. Wassalam. sampai jumpa ditulisan berikutnya ( Dellurang)

Senin, 25 Agustus 2014

SERTIFIKASI GURU


Beberapa waktu yang lalu istriku mencurahkan segala unek-unek yang ada di dalam hatinya, saya pun begitu serius memperhatikan semua yang dia ungkapkan, dia menceritakan apa yang terjadi dilokasi tempat dia bekerja yaitu SMP Negeri 3 Gantarang, memang sih kalau kita perhatikan ceritanya membuat kita merasa bahwa itu memang suatu hal yang bisa dikategorikan keputusan yang tidak adil alias diskriminasi "yahhh itu persi saya sebagai suaminya" tapi bagi kepala sekolah dan pihak yang diuntungkan mungkin mereka berpendapat bahwa inilah keputusan yang paling bijak.
sebenarnya istriku (kita sepakat saja ganti kata istriku dengan kata Salmawati, OK) adalah seorang guru Honorer/ sukarela/ WB alias Wiyata Bakti di SMP Negeri 3 Gantarang kec. Tinggimoncong sejak tahun 2009 yang lalu sekalipun pada waktu itu dia mengajar sambil kuliah berhubung sekolah tersebut merupakan USB dan belum memiliki tenaga pengajar yang cukup maka saya selaku komite pembangunan  sekolah beserta kepala sekolah pada waktu itu sepakat untuk mencari/merekrut warga sekitar sekolah yang memiliki kemampuan untuk menjadi staf pengajar sesuai dengan kompetensinya masing-masing, maka didaftarlah beberapa orang baik yang sudah sarjana ataupun yang sementara kuliah untuk dijadikan tenaga pengajar dengan mekanisme mengatur jadwal sesuatu dengan kesempatan yang dimiliki masing-masing guru agar tidak mengganggu aktifitas perkualiahannya dan sekolah juga tetap jalan.
Tidak terasa tahun kemarin istriku sudah resmi menyandang gelar S.Pd dibidang Pendidikan Ekonomi, otomatis kegiatan pembelajaran di sekolah tidak lagi terhambat karena alasan kuliah dia menjalankan tugasnya dengan penuh rasa percaya diri, disiplin yang tinggi, mematuhi kode etik guru, semangat yang berapi-api dalam mempersiapkan calon generasi penerus bangsa yang berkualitas dan berakhlak mulia, namun tetap tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai istri di rumah. "hehehehe cie-cie"
Tiba-tiba semangat yang begitu tinggi berubah down, seperti api yang disiram air, seperti kembang di tanah yang kering dan tandus, bagaikan bulan kesiangan, semangat juangnya pudar sudah lantaran kehadiran seorang guru PNS sertifikasi dari SMP Negeri 2 Saluttowa yang kekurangan jam disekolahnya meminta jam di sekolah tempat istriku mengajar. maka otomatis semua jam istriku diambil semua oleh guru sertifikasi tersebut.
Kepala sekolah menerima permohonan guru tersebut untuk tambah jam di sekolah istriku, kini istriku hanya tertunduk lesu dirumah, dia sudah tidak punya jam lagi di SMP Negeri 3 Gantarang, siswa sudah melayangkan protes (demo) ke Kepala Sekolah, guru-guru yang lainnya pun juga tidak ketinggal bersuara menolak kebijakan kepala sekolah karena pasti kita semua guru sukarela di sekolah ini akan tergeser besok lusa nanti ketika guru sertifikasi lainnya masuk di sekolah kita lagi. namun Kepala Sekolah hanya mengatakan bahwa keputusan dinas, guru sertifikasi harus diprioritaskan.
Memang kalau dipikir dimana letak keadilan, istriku yang selama ini mengajar hanya dihargai Rp. 3.000,- perjam pelajaran "jadi seandainya mereka mengajar 4 jam perhari dia hanya memperoleh Rp. 12.000/ hari atau bahasa sederhananya karena cuma 3 rombel atau 12 jam per minggu maka istri saya jika pull mengajar dalam 1 minggu maka dia mendapatkan Rp. 36.000 per minggu (3 rombel x 4 jam x Rp. 3000 =  36.000/ minggu suatu nominal yang sangat memprihatikan,jika dibandingkan dengan Gaji PNS + Sertifikasi namun  istriku tetap mensyukuri nominal itu, karena tuntutan kebutuhan hidup, dan berusaha membantu menopang perekonomian keluarga karena saya juga masih sukarela di Sekolah Dasar,
Dengan kedatangan guru sertifikasi di sekolah itu, istriku hanya bisa meneteskan air mata setiap saat di rumah, "saya senang mengajar sekalipun gajiku kecil, saya sayang sama siswaku, saya ikhlas mendidik mereka, namun kini saya sudah tidak kebagian jadwal lagi" kepala sekolah mencoba menghibur saya dengan memberikan bidang studi matematika tapi saya katakan itu bukan keahlian saya pak, bidang saya adalah IPS terpadu takut saya tidak profesional dalam menjalankan tugas, kepsek juga menawarkan 1 kelas atau 4 jam pelajaran namun saya pun menolaknya karena biaya perjalanan menuju sekolah lebih besar dari pada hasil yang saya dapatkan perbulannya.
Kini Guru Sertifikasi itu sudah menjalankan tugasnya dengan perasaan senang, membayangkan tunjangan sertifikasi yang akan dia terima nantinya, tanpa memikirkan bahwa tugas yang saya jalankan ini adalah hak orang miskin yang saya rampas, hak anak-anak yang menangis karena kekurangan susu, jeritan seorang ayah yang tidak mampu memenuhi kebutuhan anak dan keluarganya, wajar jika istriku setiap saat hanya mengusap air matanya, membayangkan jaman yang begitu tidak adil, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin teraniyaya. saya cuma bisa mengatakan "jangan menangis sayang, ini hanya cobaan dari Tuhan hadapi semua dengan senyuman sinarmu harus tetap bersinar" 

Sabtu, 23 Agustus 2014

FLASHDISK RAHASIA

Hari ini saya kedatangan tamu lagi, tamu yang sering sekali mampir kerumahku setiap hari sabtu dan biasanya nginap 1 atau 2 hari sebelum kembali ke kota karena alasan aktivitas. Malam sebelum kedatangannya saya sudah menyusun rencana yang begitu mantap, pertama pagi-pagi sekali setelah memberi makan ayam, saya masak nasi, cuci piring kotor, menyiram bibit cengkeh, mempersiapkan bekal perjalanan untuk berburu madu. jadi saya perkirakan saya berangkat paling lambat 07.30 pagi. kenapa saya bangun cepat dan mempersiapkan semuanya? karena istri saya lagi ada urusan sehingga harus nginap beberapa malam untuk menyelesaikan urusannya, sedangkan anak saya dititip di nenenknya, rasanya merdeka beberapa hari. namun semua perencanaan buyar setelah mendengar suara motor honda menuju kerumahku. dalam hatiku gagal sudah rencana semalam, terpaksa saya harus mengurungkan niatku untuk berangkat cepat menuju ke hutan. yaaa terpaksa harus melayani tamu ini dulu, sekalipun dia sudah sering ke rumahku untuk nginap/malam minggu, tetap saja harus dilayani dulu, bukankah Rasulullah berpesan bahwa kita harus memuliakan tamu?
sebenarnya istriku sudah mulai keberatan dengan seringnya datang, trus keluarga juga sudah mulai bertanya-tanya siapa dia, dari mana, apa tujuannya, ketemu dimana dan lain sebagainnya, tapi saya cuma menjawab dengan tenang dia adalah tamuku, dan harus memuliakannya saya tidak perlu tau siapa dia, dari mana, apa tujuannya yang jelasnya dia datang ke rumahku dan saya menerimanya dengan baik.memang sih saya cuma kebetulan ketemu di jalan tepatnya di depan kantor lurah Gantarang dan besoknya saya ajak kerumah dan sejak itu dia selalu datang  setiap minggu. istriku awalnya juga menerima dengan baik, "maklum" keadaan perekonomian yang begitu sulit untuk pembeli susu saja buat anakku begitu sulitnya, ikan saja syukur kalau bisa beli 1 x 1 minggu, ditambah lagi selalu ada tamu setiap sabtu, tapi yang semuanya harus disyukuri sekalipun saya merasa paling miskin di kampung ini toh masih ada orang kota yang senang bertamu kerumahku. saya cuma berpesan kepada istriku hidangkanlah makanan apa adanya, kalau memang kita tidak mampu untuk beli ikan, masih banyak daun-daun di sekitar rumah yang bisa disayur, hidangkan apa adanya agar mereka tau kehidupan kita sebenarnya.
kembali ke topik awal, rencana ke hutan untuk berburu lebah madu terpaksa ditunda menunggu momen yang tepat untuk minta izin, sambil mengutak atik laptop, OL, buka facebook di teras rumah istrinya tiba-tiba ingin membackup data yang ada di FD suaminya untuk dipindahkan ke FD miliknya. rupanya dia punya 3 FD, satu miliknya dan 2 milik suaminya, ternyata baru saya tau kalau ke2 FB tersebut 1 FD umum dan 1 FD yang sangat rahasia. karena kebetulan suaminya tertidur di kamar maka diapun membisiki saya untuk mencoba membuka FD yang slama ini dianggap rahasia. ternyata ada banyak folder di dalamnya dan yang paling banyak adalah foto-foto, diapun memerintahkan saya untuk menghapus sekian banyak foto, namun sebelum saya hapus dari FD saya diam-diam mencopy semua isi FD ke dalam hardis laptopku tanpa dia ketahui maklum sekalipun dia orang kota dan mantan pejabat katanya tapi ternyata dia juga sedikit gaptek tentang dunia komputer,, hehehehehehe. singkat cerita setelah semua perintahnya  sudah saya laksanakan, sekalian juga proses transfer data sudah selesai karena data yang saya transfer sekitar 4 GB maka saya pamit dengan sangat sopan agar mereka tidak merasa tersinggung untuk saya tinggalkan sekaligus memberikan izin menguasai rumahku, masak sendiri dan beristirahat selama saya meninggalkan rumah, "saya sudah menganggap bapak dan ibu sebagai keluarga sendiri jadi silahkan ibu beraktivitas di rumah ini saya ingin kehutan dulu siapa tau ada rezki dari Allah saya bisa membawa pulang madu yang banyak" ohhh iya boleh deh" itu kata ibu tersebut.
kira-kira jam 5 sore saya sudah sampai kembali ke rumah dengan membawa sedikit madu, saya sebenarnya malu karena hasil yang saya dapat terbilang sedikit, padahal biasanya kalau saya dapat satu sarang lebah kadang sampai 4 atau 5 botol sirup ABC namun kali ini seandainya mau diukur dengan botol  yaaaa tidak cukup 1 botollah, tapi sekali lagi seberapapun hasil yang diperoleh harus selalu disyukuri. rupanya dia sedang keluar. rumahku tergembok dari luar, pas saya buka rumah ternyata pakaian dan semua miliknya masih ada jadi saya berpikir mungkin mereka cuma keluar sebentar. sayapun cepat-cepat mandi, ganti baju, melipat cucian istriku, merapikan kembali yang berserakan tadi sebelum saya tinggalkan rumah sambil menunggu sang tamu balik ke rumah. sambil menunggu, saya tiba-tiba teringat dengan isi FD rahasia tadi yang saya pindahkan semuanya ke hardisku. dengan tenang saya mulai membuka satu persatu folder yang ada di dalam teryata hanya berisi dokumen surat-surat, karena banyaknya folder yang harus dibuka satu-persatu  sebelum mereka datang maka saya berinisiatif membuka foto-foto dengan cara mengetik .jpeg di menu search, saya mulai kaget, heran, penasaran bercampur semua menjadi satu setelah melihat foto-fotonya dan yang paling membuat saya kaget waktu saya membuka sebuah video pernikahannya yang dilangsungkan di masjid, setelah saya periksa date modifienya ternyata, "astagfirulah al adzim" ....................... bersambung


Jumat, 22 Agustus 2014

TAHAP BELAJAR

gambar dari Google
Sebenarnya saya masih bingung dengan semua ini. inilah kata-kata yang keluar dari pikiran saya pertama kali membuat blog, sudah lama saya mengimpikan memiliki sebuah blog yang indah, yang banyak dikunjungi orang, serta memberikan manfaat yang besar bagi siapa saja. namun apa yang saya impikan suatu hal yang sangat sulit untuk saya wujudkan dalam dunia nyata. saya memang bukan ahli IT, saya hanyalah seorang guru SD yang tinggal di daerah terpencil, namun tidak menyurutkan keinginanku untuk berkenalan dengan dunia maya. 
saya sudah beberapa kali meminta bantuan kepada teman yang berkompeten di dalamnya, yang ahli IT, yang merasa pintar untuk membuatkan saya Blog atau mengajari saya untuk membuat Blog, namun cuma satu kata yang mereka lontarkan, "Nanti". saya berusaha untuk tidak kecewa dan mengerti bahwa mereka sedang sibuk dan belum memiliki waktu luang untuk saya.
saya tidak putus asa, saya buka Google bagaimana cara membuat blog, tetap tidak mengerti berhubung rendahnya perbendaharaan kata yang berhubungan dengan dunia IT banyak hal yang saya tidak mengerti. memiliki kemampuan yang pas-pasan memang susah, tapi bukan berarti saya berputus asa, bukankah kita dituntut untuk selalu belajar? tidak ada yang tidak mungkin sepanjang kita selalu mau berusaha.